Apa Itu Quiet Quitting? Tren Baru Di Dunia Kerja

Apa Itu Quiet Quitting

Pernahkah kamu mendengar tentang quiet quitting? Istilah quiet quitting ini sedang ramai di media sosial dan menjadi tren baru dalam dunia kerja. Mengapa demikian?

Sebenarnya istilah quiet quitting ini dipopulerkan oleh seorang pengguna Tik Tok asal Amerika, yakni @zaidleppin yang mengupload video tentang quiet quitting dan mengatakan bahwa “work is not your life”. Quiet quitting bukan berarti seseorang keluar dari pekerjaan atau resign, namun mereka hanya tidak lagi menerapkan hustle culture dalam kehidupan kerjanya. 

Namun sebenarnya apa sih quiet quitting ini? Apakah memberikan dampak yang baik bagi para pekerja dibandingkan dengan hustle culture? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting adalah perilaku seseorang yang berhenti melakukan sesuatu yang berlebihan atau ekstra dalam pekerjaannya. Misalnya sering lembur, mengerjakan tugas di luar job desk, ritme kerja yang sangat cepat, dan lain sebagainya. 

Hal ini bisa dibilang sangat berlawanan dengan hustle culture yang mana seringkali pekerja harus rela mengorbankan kehidupan pribadinya demi mencapai tujuan perusahaan. 

Maka dari itu, quiet quitting ini juga disebut sebagai sebuah prinsip dimana pekerja bertugas sesuai porsinya. Artinya, mereka bekerja dengan jam serta alokasi kerja yang sudah tertera pada kontrak atau perjanjian di awal kerja. 

Dengan menerapkan prinsip quiet quitting, seseorang dapat menciptakan work-life balance yang ideal, memperbaiki kualitas hidupnya, serta kinerja dan performa yang dihasilkan pun menjadi lebih maksimal. 

Sebab, quiet quitting ini sendiri dapat memberikan kesempatan bagi para pekerja untuk bisa menikmati kehidupan pribadinya sekaligus mengisi energi kembali agar bisa bekerja dengan kinerja dan performa yang lebih baik lagi.

Mengapa Istilah “Quiet Quitting” Menjadi Tren?

Istilah quiet quitting menjadi tren semenjak banyaknya para pekerja yang mengeluh tidak mendapatkan pengakuan maupun kompensasi ketika mereka bekerja ekstra dari sejak pandemi dua tahun yang lalu.

Apalagi dengan adanya perubahan sistem bekerja yakni Work From Home (WFH) atau hybrid ini banyak pekerja yang tertekan karena beban kerja yang diberikan sangat besar. Maka dari itu, minimnya apresiasi dan lingkungan kerja yang toxic ini menjadi salah satu penyebab munculnya istilah quiet quitting. 

Ada beberapa alasan lain yang juga menjadi penyebab timbulnya tren quiet quitting, yaitu:

  1. Para pekerja terlalu kelelahan akibat beban kerja yang tidak proporsional
  2. Para pekerja takut akan tugas tambahan yang dilimpahkan kepada mereka secara mendadak
  3. Para pekerja mulai bosan dengan pekerjaan yang tidak ada perkembangan
  4. Kurangnya waktu untuk kehidupan pribadi
  5. Para pekerja merasa usahanya hanya menguntungkan bagi perusahaan saja

Manfaat Menerapkan Quiet Quitting

Quiet quitting menjadi sebuah prinsip yang mengedepankan kesehatan mental maupun fisik bagi para pekerja. Bagaimana tidak, melalui prinsip ini mereka dapat menikmati hidupnya di luar pekerjaan. Mereka tidak membutuhkan pemandangan layar komputer atau ruangan kerja 24/7, namun mereka juga ingin merasakan hangatnya suasana rumah. 

Berikut ini adalah beberapa manfaat dari quiet quitting yang dapat diperoleh para pekerja yang menerapkan tren tersebut:

Kualitas hidup meningkat

Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa dengan seseorang menerapkan quiet quitting, maka kehidupan pribadi dan pekerjaan pun menjadi lebih seimbang. Hal ini tentu dapat meningkatkan kualitas hidupnya karena mereka juga mempunyai waktu untuk kehidupan pribadinya. 

Perlu diingat kembali, para pekerja juga manusia yang mempunyai kehidupan sendiri dan berhak untuk menikmatinya. Sehingga, perusahaan pun harus memahami akan hal ini dan tidak bisa seenaknya mengeksploitasi kehidupan pribadi mereka.

Bekerja menjadi lebih efektif

Tren quite quitting sangat mengutamakan jam kerja dan job desk yang sesuai dengan porsinya, sehingga akan membuat para pekerja menjadi bisa bekerja lebih efektif. Sebab, mereka akan benar-benar menggunakan waktu kerjanya untuk menyelesaikan tugas. 

Mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu kerjanya hanya untuk pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya atau diluar job desk. Jika mereka melakukan hal sebaliknya, maka waktu pribadi mereka pun menjadi berkurang. Bahkan tak jarang dari mereka akan mengerjakan tugas dengan setengah hati sehingga hasilnya menjadi kurang maksimal. 

Mencegah burnout

Burnout merupakan kondisi yang sering dirasakan oleh para pekerja akibat terlalu banyak bekerja, sehingga mereka menjadi merasa mudah lelah secara fisik, mental, maupun emosional. Kondisi yang buruk ini harus segera diatasi agar tidak terjadi hal yang lebih serius, seperti stres, depresi, hingga kematian. 

Jika seseorang menerapkan prinsip quite quitting, maka mereka dapat terhindari dari kondisi buruk tersebut dan kinerja atau performa kerja lebih terjaga. Dengan begitu, pekerjaan pun tidak akan terganggu dan mampu mencapai target yang telah ditentukan. 

Banyak perusahaan yang beranggapan bahwa jika para pekerja di push terus-menerus untuk bekerja maka mereka dapat berkembang dan perusahaan pun mendapatkan keuntungan. Namun, nyatanya di lapangan tidak seperti itu, tenaga para pekerja menjadi semakin terkuras hingga mengalami burnout maupun stres berkepanjangan. 

Sisi Negatif Quiet Quitting

Meskipun tren quiet quitting memberikan manfaat dan dampak yang positif bagi para pekerja, namun ternyata ada beberapa dampak negatif yang juga diberikan oleh quiet quitting. Apa saja itu?

Mengurangi produktivitas 

Para pekerja yang menerapkan prinsip quiet quitting ini cenderung kurang produktif dalam bekerja. Sebab, mereka hanya akan melakukan pekerjaan utamanya saja tanpa mencoba hal-hal baru lainnya. 

Produktivitas akan terjadi jika seseorang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Jadi bila perusahaan memberikan tugas di luar job desk karyawannya, maka karyawan tersebut cenderung akan lebih susah untuk produktif.

Sebenarnya para pekerja ini bisa saja menjadi produktif, asalkan ada fasilitas yang mendukung, pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya, serta insentif yang masuk akal. Akan tetapi, kebanyakan perusahaan tidak memberikan hal tersebut sehingga para pekerja pun memilih untuk bekerja biasa-biasa saja.

Mungkin jika para pekerja yang menerapkan prinsip quite quitting dapat menyisihkan waktu bekerjanya untuk mengembangkan keterampilannya, maka mereka dapat lebih produktif. Misalnya jika pekerjaan utama hari itu sudah selesai dan jam kerja masih ada beberapa jam lagi, maka mereka bisa menggunakannya untuk mempelajari sesuatu.

Berpotensi terjadinya pemecatan atau PHK karyawan

Menurut Siti Khairunnisa, Manajer PT Reeracoen Indonesia yang diwawancarai oleh CNN Indonesia mengatakan bahwa, seseorang yang menerapkan prinsip quite quitting lebih berisiko diberhentikan oleh perusahaan. Sebab, mereka dinilai “stuck”, tidak ada perkembangan, serta tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi perusahaan. 

Seperti yang telah disinggung di atas, para pekerja dengan prinsip quite quitting ini memang hanya akan mengerjakan tugas sesuai dengan porsinya dan cenderung tidak bisa produktif dalam artian stagnan. Maka dari itu, mereka akan lebih berpotensi diberhentikan oleh perusahaannya. 

Umumnya, perusahaan akan memberikan promosi jabatan atau kenaikan gaji kepada karyawannya yang lebih berkontribusi dalam perkembangan maupun kemajuan perusahaan daripada karyawan dengan kinerja yang stagnan. 

Selain itu, akhir-akhir ini banyak perusahaan yang melakukan lay off kepada para pekerjanya untuk tujuan efisiensi. Nah, pada kasus ini biasanya mereka akan memilih karyawan yang tidak banyak memberikan kontribusi kepada perusahaan untuk mereka berhentikan. Para pekerja dengan prinsip quite quitting pun bisa menjadi target utama perusahaan, sebab mereka merasa pekerjaan mereka mampu dialihkan kepada pekerja yang multitasking dan siap untuk lembur. 

Akan tetapi, masalah ini tentu bisa diatasi jika para pekerja ini mempunyai strategi kerja yang lebih baik. Mereka bisa mengkombinasikan prinsip quiet quitting dengan hustle culture. Perlu kamu ketahui bahwa hustle culture menganggap waktu merupakan hal yang berharga, sehingga mereka tidak akan memanfaatkannya untuk bekerja keras. 

Memang hustle culture ini jika dilakukan terus menerus akan sangat buruk bagi pekerja, terutama kesehatan. Maka dari itu, para pekerja dapat menerapkan hustle culture sesekali ketika ada sesuatu yang penting. Misalnya akreditasi, campaign, dan sebagainya. 

Jadi, intinya para pekerja harus mengetahui kapan waktunya untuk menerapkan quite quitting dan kapan untuk hustle culture. Dengan begitu, mereka akan mendapat berbagai keuntungan dari segala sisi. 

Quiet Quitting dari Sisi Perusahaan

Jika para pekerja mulai menerapkan prinsip quite quitting, mungkin beberapa perusahaan akan menganggapnya sebagai “red flag”. Sebab, para pekerjanya tidak memberikan seluruh tenaga dan upayanya untuk perkembangan perusahaan. 

Namun, tentu para pekerja tidak akan berbuat demikian bila perusahaan mendukung mereka sepenuhnya dalam pekerjaan. Baik itu berupa gaji yang sesuai, pelatihan untuk pengembangan diri, fasilitas yang memadai, hingga reward atau penghargaan atas hasil kerja mereka. 

Perusahaan harus memahami kebutuhan dan keadaan para pekerjanya, dengan begitu mereka akan memberikan kontribusi yang sepadan untuk perusahaan. Maka dari itu, tidak hanya para pekerja saja yang harus mempunyai strategi kerja agar mampu bertahan, namun perusahaan pun juga juga harus mempertimbangkan bagaimana cara menciptakan lingkungan dan work flow yang tepat bagi bisnis maupun karyawannya. 

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai quiet quitting yang saat ini ramai diperbincangkan oleh banyak orang. Intinya, baik pekerja maupun perusahaan harus mempunyai satu pemikiran dan tujuan yang sama agar tercipta sistem kerja yang baik.Ingin tahu informasi terkini lainnya seputar karir? Yuk, kunjungi langsung laman myrobin.id/blog sekarang juga!

Peluang bekerja di perusahaan ternama

Membangun jaringan karir, mengembangkan skill, serta dapatkan berbagai kemudahan dan manfaat lainnya

Bagikan artikel ini:
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Pinterest
Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cepat kerja, banyak untungnya pula!